Raja-raja Mataram
Pemerintahan Dyah Balitung
Sebagai pengganti raja-raja Mataram terdahulu, Sri Maharaja Rakai Watu Kura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Maha Sambu memerintah kerajaan ini selama 12 tahun ( 899-911 M )
Pada masa pemerintahannya ditemukan 28 prasasti, baik diatas batu ataupun diatas perunggu. Sebagian prasastinya terdapat di Jawa Timur. Didalam prasasti itu beliau memakai gelar Abhiseka Sri Iswwara Kesaka Samaratungga ( prasasti Watu Kura tahun 824 saka dan prasasti Kinewu tahun 829 saka dan sebagian lagi berada di Jawa Tengah.
Berdasarkan parsasti tertua yang berasal dri Jawa Timur yaitu prasasti Perkebunan Penampihan dilereng gunung Wilis, Para sarjana berpendapat bahwa Rakai Watukura ayah Balitung ialah seorang pangeran di Jawa Timur yang naik tahta kerjaan Mataram di Jawa Tengah karena perkawinan dengan putri mahkota kerajaan Mataram ( diperkuat dengan adanya prasasti Mantyasih ).
Berdasaarkan prasasti Kubu-kubu bahwa Rakai Watukura Dyah Balitung telah meluaskan kekuasaannya ke timur. Tindakan rakai Watukura yang lain adalah beliau membuat tempat penyebrangan di Paparahuan di tepi sungai Bengawan Solo. Yang diperintahkan adalah rakai Wlar Pusadarsana. Setelah selesai dibuat tempat penyebrangan dengan tambahan perahunya, 2 buah perahu dan 2 buah cadanganya serta tempat penjaganya, maka pejabat desa disekeliling ketiga desa yang ditetapkan menjadi sima dimintai persetujuannya tentang diadakannya tempat penyebrangan tersebut, dan semua pejabat desa tersebut setuju.
Dari masa pemerintahannya Dyah Balitung juga ditemukan prasasti yang berisi keputusan pengadilan ( Jaya Patra ). Keputusan pengadilan itu berisi masalah hutang. Masa pemerintahan Dyah Balitung rupa-rupanya berlangsung dengan aman, kecuali dengan adanya kerusuhan di desa Kuning disekitar gunung Sindoro dan Sumbing. Tapi intrik didalam keraton berjalan teratur. Daksa yang mirip putra mahkota ternyata bukan anak rakai Watukura, melainkan iparnya. Karena merasa lebih berhak, Daksa bekerja sama dengan rakai Gurunwangi untuk merebut kekuasaan. Maka dapat diperkirakan bahwa pergantian dari Rakai Watukura Dyah Balitung kepada Rakai Hino Pudaksa tidak berjalan dengan wajar.
Setelah berhasil menjadi raja, Rakai Gurunwangi diberi kedudukan sejajar dengan pangeran eselon pertama.
Sebagai pengganti raja-raja Mataram terdahulu, Sri Maharaja Rakai Watu Kura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Maha Sambu memerintah kerajaan ini selama 12 tahun ( 899-911 M )
Pada masa pemerintahannya ditemukan 28 prasasti, baik diatas batu ataupun diatas perunggu. Sebagian prasastinya terdapat di Jawa Timur. Didalam prasasti itu beliau memakai gelar Abhiseka Sri Iswwara Kesaka Samaratungga ( prasasti Watu Kura tahun 824 saka dan prasasti Kinewu tahun 829 saka dan sebagian lagi berada di Jawa Tengah.
Berdasarkan parsasti tertua yang berasal dri Jawa Timur yaitu prasasti Perkebunan Penampihan dilereng gunung Wilis, Para sarjana berpendapat bahwa Rakai Watukura ayah Balitung ialah seorang pangeran di Jawa Timur yang naik tahta kerjaan Mataram di Jawa Tengah karena perkawinan dengan putri mahkota kerajaan Mataram ( diperkuat dengan adanya prasasti Mantyasih ).
Berdasaarkan prasasti Kubu-kubu bahwa Rakai Watukura Dyah Balitung telah meluaskan kekuasaannya ke timur. Tindakan rakai Watukura yang lain adalah beliau membuat tempat penyebrangan di Paparahuan di tepi sungai Bengawan Solo. Yang diperintahkan adalah rakai Wlar Pusadarsana. Setelah selesai dibuat tempat penyebrangan dengan tambahan perahunya, 2 buah perahu dan 2 buah cadanganya serta tempat penjaganya, maka pejabat desa disekeliling ketiga desa yang ditetapkan menjadi sima dimintai persetujuannya tentang diadakannya tempat penyebrangan tersebut, dan semua pejabat desa tersebut setuju.
Dari masa pemerintahannya Dyah Balitung juga ditemukan prasasti yang berisi keputusan pengadilan ( Jaya Patra ). Keputusan pengadilan itu berisi masalah hutang. Masa pemerintahan Dyah Balitung rupa-rupanya berlangsung dengan aman, kecuali dengan adanya kerusuhan di desa Kuning disekitar gunung Sindoro dan Sumbing. Tapi intrik didalam keraton berjalan teratur. Daksa yang mirip putra mahkota ternyata bukan anak rakai Watukura, melainkan iparnya. Karena merasa lebih berhak, Daksa bekerja sama dengan rakai Gurunwangi untuk merebut kekuasaan. Maka dapat diperkirakan bahwa pergantian dari Rakai Watukura Dyah Balitung kepada Rakai Hino Pudaksa tidak berjalan dengan wajar.
Setelah berhasil menjadi raja, Rakai Gurunwangi diberi kedudukan sejajar dengan pangeran eselon pertama.

