Terima kasih kepada pengunjung blog ini. Anda bebas mengcopy dan membagikan artikel di dalam blog ini. Tapi hanya ada satu pesan penulis untuk anda, Jangan lupa mencantumkan link artikel yang anda copy atau bagikan, karena itu merupakan apresiasi kepada penulis blog ini. Terima kasih.
Tampilkan postingan dengan label Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan

Kerajaan Chenla

Menurut sumber Cina kerajaan Funan jatuh akibat terjadinya pemberontakan Chenla. Mala-mula Chenla merupakan daerah vasal kerajaan Funan. Kerajaan Chenla terletak di sebelah utara Funan, meliputi daerah-daerah Me¬kong hilir dan tengah. (sekarang Camboja Utara dan Laos),
Bukti historis bahwa sebagai pendiri kerajaan Chenla disebut-sebut nama Bhawawarman ( 550 - 600 ) dan Mahendrawarman ( 600 - 611 ) ke duanya kakak beradik dari kelompok militer. Mereka dikenal sebagai pemuja Siwa dan Indra.
Kebesaran kerajaan Chenla mulai dilakukan dimasa pemerintahan Isanavarman, putera dari Mahendrawarman yang kemudian mulai mempersatukan atau menggabungkan Funan dan Chenla menjadi satu ( 627 ). Ia dikenal pula sebagai seorang penakluk. Banyak kerajaan yang ditaklukannya. Pusat pemerintahan terdapat di kota Isanapurat sebagai kota bandar di lembah Sungai Mekong, Hanya dengan kerajaan Champa ia memelihara hubungan baik bahkan ia telah mengawini puteri Champa. Berdasar berita Cina, Isanawarman memerintah sampai tahun 635. Adapun prasasti terakhir yang dikeluarkan bertarich tahun 628 / 629.
Pada tahun 706, kerajaan Chenla dipecah menjadi 2 bagian yakni Chenla selatan dan Chenla utara. Mengenai sejarah Chenla Utara dapat diketahui dari berita-berita Tionghoa atau Cina. Nama yang dipakai untuk Chenla adalah Wen-Tan. Daerahnya sampai di Junnan Penduduknya terdiri dari bangsa Thai. Kerajaan itu juga menyelenggarakan atau menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Berturut-turut dilaporkan tentang kedatangan duta-dutanya di istana kaisar di Cina. Sumber-sumber yang menceritakan tentang sejarah Chenla Utara sangat sedikit sekali.
Sementara itu di Chenla Selatan, sepeninggal Jayawarman I terjadi perebutan supremasi antara dinasti Aninditapura, Nyadhapura dan Sambhupura. Permusuhan itu akhirnya dapat diselesaikan dengan jalan perkawinan politik, hingga Chenla Selatan dapat bersatu kenibali. Adapun yang dapat dianggap mempersatukan keutuihan Chenla Solatan adalah Sambuwarman Pusat pemerintahan terdapat di Armker-Boraio
Selanjutnya raja-raja yang memerintah sampai akhir abad 10 sangat sedikit sekali yang diketahui. Sejarahnya diketahui hanya menceritakan tentang hasil-hasil seni bangunan, bukan kejadian yang berbau politik.

Raja-raja yang memerintah adalah
1. Suryawarman I
Putra dari raja Tambralinga. Pernah melakukan ekspansi ke lembah sungai Menan. Menurut prasasti Lephuri, kekuasaannya meliputi kerajaan Doarwati dan Kerajaan Tambralinga. Peninggalanya yang terpenting adalah sebuah candi yaitu Phimeanakus dan Ta Keo.

2. Suryawarman II
Raja ini juga membuka hubungan diplomatik dengan Cina. Berkali-kali ia mengirim duta-dutanya ke Cina. Peninggalannya adalah bangunan suci yang terkenal adalah Angkor Wat

3. Jayawarman VII
Kekuasaannya meliputi daerah Champa ke utara sampai wilayah di Say-Fong (Viantine). Peninggalannya adalah sebuah monumen Bayon, yang merupakan kuil Budha yang berbentuk Piramid.

4. Indrawarman III
Dalam pemerintahannya agama Budha Therawada cepat sekali dalam berkembang dan menjadi agama rakyat.

Keruntuhan kerajaan Angkor juga dipercepat oleh lamanya peperangan yang dilakukan dalam menghadapi bangsa Thai ( 1350-1431 ). Selain mnghadapi dari bangsa Thai, kerajaan Cambodia itu juga menghadapi ancaman dari Champa. Selain itu juga karena adanya perpindahan ibukota kerjaan yang dilakukan oleh putra mahkota Cambodia yaitu Ponha Yatt.

Kerajaan Funnan

Berita yang menyangkut berdirinya kerajaan Funnan berasal dari Cina sekitar abad 3 masehi. Petunjuk pertama dari orang Cina mengenai kerajaan tersebut datang dari utusan yang dikirim oleh kaisar bernama Kang Tai. Sedangkan kaisar yang berkuasa pada waktu itu adalah Fan Shun.
Pendiri kerajaan Funnan, menurut berita dari Cina adalah Fang Shih-man. Fan Shih-Man adalah penakluk besar, beliau mengembangkan kekuasaan kerajaannya sedemikian rupa sehingga dijuluki atau diberi gelar raja besar. Beliau juga membangun angkatan laut yang besar untuk menguasai lautan. Dalam cerita menyebutkan, beliau menyerang 10 kerajaan dan menuguasai 4 diantaranya. Wilayah kekuasaannya meliputi lembah-lembah sungai Mekong dan Tole Sap.
Titel Dinasti Funnan disebut sebagai King of The Mountain (Raja Gunung). Ibukota kerjaan adalah Vyadapura yang terletak di daerah jalur lalu lintas perdagangan sungai Mekong. Wilayah kekuasaan kerajaan Funnan meliputi pantai Malaya sebelah utara. Dan juga mengawasi pelabuhan dan kapal-kapal disekitar pantai Camrah Bay. Lalu lintas perdagangan mengandalkan aliran sungai. Negaranya bersifat agraris dengan mengandalkan hasil pertanian. Tanahnya sangat subur karena dialiri oleh sungai-sungai yang ada pada waktu itu.

Proses Masuknya Pengaruh Cina ke Asia Tenggara


Sejarah Asia Tenggara didominasi oleh pengaruh-pengaruh kultural India, Cina, Timur Tengah dan Eropa. Pengaruh Cina di Asia Tenggara mulai nampak melalui dalam bidang perdagangan. Salah satu bukti yang nampak adalah dari hasil kerajinan atau industri yang terbuat dari bahan perunggu, di masa dinasti Shang,  Mereka sebagai pedagang dan penakluk. Pengaruh mereka yang  kuat  karena negara itu bertapal batas dengan wilayah Vietnam Modern dan Laos, juga Burma dan Siam.
Sudah sejak Jaman Kuno pengaruh Cina dan Hindu terasa di kawasan Asia Tenggara. Antara Cina dan Hindu  saling berebut pengaruh di wilayah Annam dan Cochin China dalam memperebutkan supremasinya. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan pengaruh-pengaruh Cina dan  Hindu terhadap daerah-daerah tersebut bukan berarti bahwa kebudayaan-kebudayaan setempat dilenyapkan. Anasir-anasir kebudayaan asli berasimilasi dengan anasir-anasir asing, hal itu tampak dari hasil kebudayaan khususnya hasil-hasil kesenian dan arsitektur.
Kontak antara negara-negara di Asia tenggara dengan Cina dan Hindu nampak dalam hubungan perdagangan. Mereka saling mengunjungi pelabuhan masing-masing. Jauh sebelum tampak gejala-gejala pengaruh India, di Asia Tenggara rupanya sudah ada koloni-koloni kecil perdagangan India di bandar-bandar Asia Tenggara, Sebaliknya demikian pula dengan bandar-bandar di India, terdapat koloni-koloni perdagangan Indonesia baik di Benggala maupun di pantai Coromandel (ke dua belah pihak aktif).
Setelah hubungan dagang itu berjalan lama sekali kemudian tampak perubahan yang besar di Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan mulai timbul, agama, kesenian serta adat istiadat Hindu dianutnya, bahasa Sansekerta dipakai sebagai bahasa suci. Kerajaan-kerajaan baru itu tumbuh di sekitar tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh pelaut-pelaut India pada masa yang silam. Perubahan itu disebab kan oleh kedatangan para brahmana dan pujangga yang berkewajiban menyebarkan kebudayaan Hindu.
Ebook
GRATIS UNTUK ANDA
Silahkan masukkan data diri anda pada form
di bawah ini
Name:
Email:
"Cek Email anda, jika email konfirmasi tidak masuk ke inbox anda
silahkan cek di folder junk atau spam"
website
indonesiadalamsejarah.blogspot.com