Statistik

Ebook
GRATIS UNTUK ANDA
Silahkan masukkan data diri anda pada form
di bawah ini
Name:
Email:
"Cek Email anda, jika email konfirmasi tidak masuk ke inbox anda
silahkan cek di folder junk atau spam"
website
indonesiadalamsejarah.blogspot.com

PERANAN DOKTRIN MONROE, POLITIK LUAR NEGERI DAN KAITANNYA DENGAN TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT

Doktrin Monroe, sebenarnya dari nama seorang Presiden Amerika Serikat. Nama lengkapnya adalah James Monroe, Presiden Amerika Serikat yang ke-5 ( 1817-1825 ).
Ia dilahirkan pada tanggal 28 April 1758. Ketika berusia 18 tahun , ia turut berjuang dalam tentara revolusi Amerika. Namun keluar dari tentara setelah 4 tahun bertugas . Sewaktu belajar hukum , ia mengikat persahabatan dengan Thomas Jeffreson , yang ketika itu menjadi Gubernur negara bagian Virgina. Ikatan persahabatan itu menjadi erat dan berkat bimbingan Thomas Jefferson-lah James Monroe memasuki lapangan politik.
Sejak koloni-koloni Inggris berhasil mencapai kemerdekaan, Bangsa-bangsa Amerika Latin mulai memperjuangkan kemerdekaannya, Sebelum tahun 1821, Argentina dan Cili telah berhasil mencapai kemerdekaannya dan pada tahun 1822 , di bawah pimpinan Jose de San Martin dan Simon Bolivar , lain-lain Negara di Amerika Latin juga mendapatkan kebebasannya ( Gray,dkk : 80-81 ) .
Sejumlah kekuatan inti Eropa pada saat itu membentuk suatu Persekutuan Suci untuk melindungi diri sendiri  terhadap revolusi .Caranya adalah dengan mengadakan campur tangan dalam negara-negara dimana gerakan rakyat membahayakan tahta raja-raja .Kebijakan politik ini bertentangan prinsip penentuan nasib sendiri yang di anut Amerika Serikat .
James Moenroe diangkat mejadi presiden pada tahun 1817 . hasil yang terbesar dari pemerintahannya adalah kesuksesannya dalam pelaksanaan politik luar negeri. Sejak semula, Presiden James Moenroe sangat bersimpatik terhadap gerakan kemerdekaan di negara bagian jajahan Spanyol di Benua Amerika .Ia sebenarnnya ingin mengakui sesegera mungkin kemerdekaan negara-negara baru itu, tetapi ia menundanya agar perundingan- perundingan dengan Spanyol mengenai wilayah Florida jangan sampai gagal .Sesudah perundingan-perundingan itu berakhir dan Florida menjadi daerah   Amerika Serikat, ia segera bertindak dan mengakui negara- negara baru itu  .Ia bahkan mengambil tindakan lebih lanjut lagi. Ia menyusun naskah yang terkenal sebagai Doktrin Moenroe , yang menjadi salah satu naskah terpenting bagi Amerika dalam urusan politik luar negerinya dan sumber dari banyak tindakan berdasarkan prinsip yang tercantum dalam naskah itu .

PRINSIP-PRINSIP DOKTRIN MOENROE
Pada tanggal 2 Desember 1823, dihadapan Kongres, Monroe menyampaikan amanat tahunannya dimana beberapa bagiannya merupakan Doktrin Monroe : ( 1 ) berdasarkan keadaan bebas dan merdeka yang telah mereka perjuangkan dan pelihara , Benua-benua Amerika untuk selanjutnya tidak dapat dijadikan subyek guna kolonisasi di kemudian hari oleh negara Eropa manapun : ( 2) Sistim politik negara-negara persekutuan tadi secara hakiki sudah berbeda dengan sistem Amerika. Kita akan menganggap setiap usaha untuk merluaskan sistem ke bagian yang manapun dalam belahan bumi disini sebagai membahayakan perdamaian dan keamanan kita; ( 3) Kita tidak pernah ikut campur tangan dalam koloni atau wilayah kekuasaaan negara Eropa manapun yang telah ada : ( 4 ) Kita tidak pernah ikut campur, dan memang tidak sesuai dengan politik kita untuk berbuat begitu, dalam peperangan antara negara Eropa yang menyangkut urusan mereka sendiri ( Gray , dkk : 81 ) .
Ada dua hal yang patut disimak pada empat prinsip Doktrin Monroe, yaitu : pertama, kembali kepidato perpindahan George Washington, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bersikap netral dalam konflik di Eropa; kedua : menyatakan bahwa sesudah ini, Amerika Serikat akan menganggap Amerika Utara dan Amerika Selatan  diluar batas penaklukan oleh Eropa ( Bradley , 1991 ; 20 ) di sisi lain Doktrin Monroe intinya adalah “Amerika for the Americans “ ( Hidayat mukmin 1981 : 193 ) ini berarti : ( 1  ) Politik isolasi, artinya dunia luar Amerika jangan mencampuri soal-soal dalam negeri Amerika dan sebaliknya Amerika jangan ikut-ikut dalam soal-soal di luar Amerika; (2) Pelopor Pan-Amerikanisme, artinya seluruh negara-negara di Amerika harus merupakan satu keluarga Bangsa Amerika dibawah pimpinan Amerika. Dalam tinjauan lain dikemukakan bahwa “Amerika for the Americans”, berarti orang Amerika jangan ikut-ikut dalam soal-soal di luar Amerika (berarti merupakan politik isolasi), Amerika for the Americans, berarti orang luar Amerika jangan ikut campur masalah intern Amerika (juga berarti menerapkan politik isolasi), Amerika for the Americans berarti supremasi atau imprealisme USA dalam Benua Amerika yang berujud dalam bentuk Pan_Amerika (Hidayat mukmin 1981 : 139).


TUJUAN DOKTRIN MONROE
Tujuan pokok Doktrin Monroe adalah mencegah Perancis atau Spanyol untuk meluaskan kembali kekuasaan kolonialisasinya atas kelas koloni Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan, serta mencegah Rusia untuk memperluas wilayahnya di Amerika Utara (Bradley, 1991 : 20). Pada waktu itu, meskipun bekas koloni Spanyol telah memperoleh kemerdekaanya, namun menurut Inggris dan Amerika Serikat sifat kemerdekaan itu yang dapat memungkinkan Spanyol dan Perancis kembali menjajah bekas-bekas koloninya. Ketika Inggris mengusulkan pernyataan bersama, akan tetapi menolak untuk mengakui republik-republik di Amerika Selatan, Monroe mengambil tindakan sepihak. Ini membuktikan bahwa Monroe sama sekali menginginkan kebebasan dari Negara Eropa manapun, ia sama sekali tidak menghendaki adanya campur tangan pihak luar dalam masalah-masalah intern (Utara, Selatan), meskipun di satu pihak Monroe menginginkan dominasi Amerika Serikat terhadap negara-negara Benua Amerika.
Pentingnya doktrin ini dari sudut sejarah telah diramalkan oleh Thomas Jefferson, ketika dimintai nasihatnya oleh Presiden Monroe pada tanggal 24 oktober 1823, ia mengatakan bahwa : “ Masalahnya … ialah yang paling penting pernah diberikan kepada saya untuk direnungkan sejak kemerdekaan. Itu yang menjadikan kita suatu bangsa. Ini menetapkan pedoman dan menunujukkan arah yang kita rintis dalam melintasi samudera waktu yang akan terbuka di hadapan kita … Garis kebijaksanaan kita yang pertama dan yang utama ialah, bahwa kita tidak akan pernah melibatkan diri dalam kancah pertikaian di Eropa, tidak  pernah membolehkan Eropa mencampuri (Sisi sebelah sisi) masalah Atlantik. Amerika, Utara dan Selatan, mempunyai seperempat kepentingan yang berbeda dengan kepentingan Eropa serta mempunyai cirinya sendiri. Oleh karena itu, Amerika harus mempunyai sistemnya sendiri, terpisah dan terlepas yang dimiliki Eropa. Selagi Eropa bekerja keras untuk menjadi domisili kelaliman (despotisme), usah kita tentu saja harus menjadikan belahan bumi kita domisili kebebasan” (Bradley, 1991 : 21).
Apa yang dipertaruhkan Amerika di tahun 1823 ?
Pertama, negara baru itu memerlukan waktu itu untuk mengembangkan lembaga-lembaganya yang membebaskan dirinya ketergantungan ekonomi dari Eropa, khususnya Inggris. Tidak ada pilihan lain kecuali politik netralistis. Kedua, pedagang Amerika ingin dapat memasuki (akses) pasar di Karibia dan Amerika Latin. Kolonialisme membatasi akses perdagangan ke negara induk. Republik-republik yang merdeka menawarkan pasar terbuka kepada pedagang yang banyak akal itu. Masalah ini sama penting untuk Inggris, sebab pada waktu itu kapal-kapal mereka menguasai lautan.
Doktrin Monroe menangani kedua masalah  ini. Doktrin ini memperkuat tekad Amerika untuk tetap menjauhi persekutuan yang menjerat dan menjelaskan politiknya terhadap diperkenalkannya kembali kolonialisme.
Tidak mengherankan, Doktrin Monroe itu mencoba nemadukan idealisme politik dengan kepentingan kapitalis (Bradley, 1991: 21). Selagi melindungi negara-negara yang baru merdeka dari Spanyol dan Perancis, Amerika Serikat memperoleh persamaan akses ke pasar Amerika Latin, dengan demikian menjadi saingan untuk para pedagang Yankee. Akan  tetapi, yang menarik keuntungan ialah orang Inggris bukan orang Amerika. Dengan pelayaran yang besar dan kuat di laut dan modal mereka di London, Inggris mampu memonopoli perdagangan di Amerika Serikat selama sisa abad ini.
Dengan pernyataan Monroe yang tegas, Amerika menjadi dewasa sebagai peserta dalam permainan politik kekuasaan. Dalam kurang dari setengah abad, Amerika Serikat telah memperoleh konsensi wilayah dari Inggris di perbatasan Kanada. Membeli wilayah Lousiania dari Napoleon dengan haraga murah (12 juta dollar) dan memaksa Spanyol untuk menyerahkam Florida hanya dengan harga 5 juta dollar. Doktrin Monroe memberikan kepada Amerika status sebagai Negara yang harus diperhitungkan.

PERANAN DOKTRIN MONROE DALAM PELAKSANAAN POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERMASUK DI AMERIKA LATIN
Bagaimana kedua prinsip Doktrin Monroe ini memperkenalan pelaksanaan hubungan luar negeri Amerika Serikat dalam salah satu setengah yang berikutnya ? Doktrin ini memberikam keabsahan kepada perasaan isolanis (mengasingkan diri) orang Amerika di adad ke-19, yang sudah berpaling dari Eropa dalam usaha mencari kekayaan dan kebebasan dari lingkungan dan dominasi Eropa. Negara ini sibuk dengan pertumbuhan kota-kota, perluasan wilayah, perkembangan industri, perbudakan, trauma sebelum dan sesudah Perang Saudara. Perhatian Amerika tidak dipusatkan ke Eropa, akan tetapi pada Amerika Tengah dan Karibia serta Pasifik.
Isolasionis ini mula-mula dipegang teguh oleh Amerika, Akan tetapi dengan adanya Perang Amerika-Spanyol (1898), pada hakekatnya Amerika telah melepaskan politik isolasi ini, karena berhasil menduduki Filipina (1898), yang berarti Amerika telah keluar dari Benua Amerika. Dengan ikutnya Amerika terang mulai melepaskan Doktrin Monroenya, tetapi tidak ikut sertanya Amerika Serikat dalam Gabungan Bangsa-bangsa, Doktrin Monroe masih lagi ingin dipertahankan. Partisipasi di pihak Sekutu dalam Perang Dunia I merupakan penyimpangan singkat dari norma, yang dipacu oleh serangan kapal selam Jerman atas kapal-kapal sipil. Tahun 1920-an dan 1930-an merupakan dasawarsa isolasionis dan terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap bantuan Lend-Lease Roosevelt kepada Inggris di Tahun 1940 (bantuan Piagam-sewa).
Baru didalam Perang Dunia II dan sesudah itu Amerika secara terang-terangan meninggalkn Doktrin Monroe. Serangan Jepang yang mengejutkan atas Pearl Harbour di Kepulauan Hawai (Panangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat), telah mengubah semua itu. Isolasionisme bukan lagi merupakan kedudukan yang dapat diterima oleh mayoritas rakyat Amerika. Sekiranya Manroe hidup kembali sekarang, ia mungkin akan terkejut dengan apa yang dilakukan prinsip Netralitas ini. Amerika Serikat mempunyai persekutuan yang tetap di Eropa dan seantero dunia bagaimana jaringan laba-laba yang nyata (Bradley, 1991 : 23). Hal ini mudah dilihat pada dominasi Amerika Serikat di berbagi lembaga Internasional seperti PBB, NATO, ANZUS dan OAS.
Khususnya di Amerika Latin, bagaimana dengan prinsip kedua Doktrin Monroe : memperingatkan kepada negara-negara Eropa supaya membiarkan Amerika dengan urusannya sendiri?Disini doktrin ini sudah direntangkan untuk memungkinkan Amerika Serikat menganggap dirinya sebagai penjaga para Negara tetangga di bagian Selatan. Mungkin ini tidak dielakkan, oleh karena perbedaan dalam kekuatan antara Utara dan Selatan.
Kebebasan intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin, Apakah dilakukan oleh perusahaan pemerintah atau swasta, sudah diperdebatkan sejak Perang Meksiko tahun 1848. Apa yang sangat mendukung kegiatan itu, sementara yang lain menentang dengan penuh gairah. Peragaan di depan umum tentang perbedaan politik merupakan perilaku yang biasa dalam penghidupan di Amerika, tidak peduli dengan bagaimanapun ketidakpastian hasilnya untuk Presiden maupun Kongres, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan, bahwa Presiden bertindak menurut keinginannya.
Doktrin Monroe tidak menegaskan dan tidak pula menyangkal hak Amerika Serikat untuk terlibat dalam negeri Amerika Latin. Beberapa Presiden menempuh politik yang agresif, terutama James Knox Polk, Presiden Amerika Serikat yang ke-28 (1913-1921) di meksiko, William McKinley, Presiden Amerika Serikat yang ke-25 (1897-1901) di Puerto Rico dan Kuba, serta Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat yang ke-26 (1901-1909) di Panama. Diantara Presiden yang belum lama beselang, James Earl Carter, Presiden yang ke-39 (1977-1981) adalah unik dalam usahanya untk menghormati integritas Negara-negara Amerika Latin, seperti yang diajukannya pada perundingan tentang Perjanjian Terusan Panama tahun 1977 (Lihat Dinas Penerangan Amerika Serikat Jakarta dan Bradley, 1991: 23).

TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT
Karakter Bangsa Amerika mulai terbentuk sejak kedatangan para koloni Inggris pada awal abad ke-17. Parsudi Suparlan dengan mengacu pada pendapat Luther S.Luedke menyatakan bahwa karakter Bangsa Amerika itu terbentuk dalam tiga tahap, yaitu : tahap pertama, karakter Amerika ditandai dengan adanya corak yang beraneka ragam dan majemuk, yang diselimuti oleh metafor “Melting plot”, seakan-akan keanekaragaman itu tidak terjadi atau hanya sementara saja dan semangat Puritan, serta impian kaya dalam hal materi….
Tahap kedua, karakter Bangsa Amerika ditandai oleh adanya ciri-ciri yang mencolok yang menekankan pada pentingnya konsep warga negara Amerika sebagi ciri utama dari orng Amerika. Konsep warga negara ini mencakup kesetiaan pada konstitusi Amerika, hokum-hukumnya dan patriotisme Amerika. Sedangkan pada tahap ketiga, yaitu yang berlaku sekarang ini, ciri-ciri kebudayaan dan karakter Bangsa Amerika berkaitan erat dengan sebagai kelanjutan dari tahap kedua, yaitu keterikatan pada Amerika secara hakiki dalm politik dan ediologi. Keterikatan ini menyangkut tanggung jawab dalam hal mendukung dan mempertahankan konstitusi dan system hukum Amerika Serikat yang berakar pada konsep keadilan, hak-hak individu, dan pemerintahan untuk rakyat dan oleh rakyat (Luedke, 1994 : Xi-XiV)
Karakter Bangsa Amerika ini besumber etika Serikat gabungan Bangsa-Bangsa, Doktrin Monroe masih lagi ingin dipertahankan. Partisipasi di pihak sekutu dalam Perang Dunia I merupakan penyimpangan singkat dari norma, yang dipacu oleh serangan kapal selam Jerman atas kapal-kapal sipil. Tahun 1920-an dan 1930-an merupakan dasawarsa isolanis, dan terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap bantuan Lend-Lease Roosevelt  kepada sejumlah nilai yang menjadi pegangan Bangsa Amerika, antara lain kemerdekaan, nasionalisme dan patriotisme, idealisme, dan perfeksionisme, moralitas dan perubahan, demokrasi dan lain-lain. Demokrasi, merupakan salah satu nilai yang dipegang oleh Bangsa Amerika sejak awal kedatangan mereka di koloni Amerika.
Sejak awal kedatangan. Sekiranya Manroe hidup kembali sekarang, ia mungkin akan terkejut dengan apa yang dilakukan prinsip Netralitas ini. Amerika Serikat mempunyai persekutuan yang tetap di Eropa dan seantero dunia bagaimana jaringan laba-laba yang nyata (Bradley, 1991 : 23). Hal ini mudah dilihat pada dominasi Amerika Serikat di berbagi lembaga Internasional seperti PBB, NATO, ANZUS dan OAS. Begitulah nasib yang menimpa negara adikuasa dan demikianlah taruhan politik.
Salah satu pendekatan baru yang digunakan untuk memahami karakter nasional adalah lewat analisa nilai-nilai yang mendasari perilaku orang-orang Amerika. Albert dan William menawarkan sejumlah nilai yang menjadi pegangan Bangsa Amerika, antara lain kemerdekaan, nasionalisme dan parriotisme, idealisme, dan perfeksionisme, moralitas dan perubahan, demokrasi dan lain-lain. Demokrasi, merupakan salah satu nilai yang dipegang oleh Bangsa Amerika sejak awal kedatangan mereka di koloni Amerika.
Sejak awal kedatangannya di Amerika Kaum Puritan sudah memimpikan adanya suatu kebebasan dalam menjalankan agamanya di daerah baru itu. Ini berarti sejak awal datangnya koloni di Amerika, kaum Puritan telah menjadi perintis kehidupan demokrasi dalam masyarakat Amerika. Nilai kehidupan demokrasi ini terus berkembang di Amerika Serikat sampai negeri itu merdeka dan terus pula berkembang sampai sekarang. Amerika Serikat sekarang ini merupakan salah satu negara yang paling demokratis di dunia. Amerika mengembangkan nilai-nilai demokrasi karena masyarakat Amerika terdiri dari berbagai macam bangsa dan beraneka ragam kebudayaan. Pluralisme etnis dan kebudayaan itu menurut pandangan Amerika hanya bias dikendalikan melalui consensus atau kesepakatan bersama. Kesepakatan itu tidak lain adalah bagian dari  budaya Amerika.
Kehidupan demokratis di Amerika tercermin antara lain dalam pemilihan yang sifatnya umum di tingkat nasional, baik yang diselenggarakan untuk memilih Presiden maupun anggota Senat. Tentunya juga dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Amerika.

DOKTRIN MONRE DAN TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT
Dalam satu segi, semua Presiden Amerika Serikat sejak Eisenhower, Presiden ke-34 (1961-1963), kembali kepada perhatian Monroe semula tentang intervensi Eropa di Amerika Latin, yakni yang bersangkutan dengan Revolusi Uni Soviet saat itu dengan paham Komintern, yang diterapkan sebagai bagian dari politik luar negerinya. Setiap pemerintah mencoba menangani bahaya ancaman yang tersimpul dalam agresi komunis di belahan bumi kita. Akan tetapi dalam hal ini sekali lagi rakyat Amerika terpecah dalam tanggapannya terhadap masalah ini. Ada yang menganggap Doktrin Monroe itu secara implisit melarang Amerika Serikat maupun negara-negara lain untuk mencampuri urusan negara-negara tetangga. Yang lain lagi berpendapat bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memperluas ciri demokrasi kita di belahan bumi ini. Yang lain beranggapan bahwa terlepas dari maksud Monroe, ancaman terhadap keamanan  kita adalah tidak berarti dan oleh karena itu kita tidak boleh intervensi.
Berbagai pandangan yang berbeda itu, akhirnya dimenangkan oleh anggapan bahwa Amerika Serikat mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memperluas ciri demokrasi tidak hanya di belahan bumi Amerika, melainkan ke luar itu. Sikap ini dibuktikan dengan pendudukannya atas Filipina (1898), keterlibatannya pada Perang Dunia I (1914-1918), Pendudukan Hawai(1894), pendudukan Guam, Midway dan Wake (1894), pemilikan hak tunggal atas terusan Panama (1914) (Hidayat mukmin 1981 : 149-150). Sejak akhir abad ke19 Amerika Serikat mulai meninggalkan Doktrin Monroe yang mana sikapnya memuncak awal abd ke-20 dengan keterlibatan Amerika dalam berbagai politik Internasional, khususnya dalam masa perang dingin.
Tradisi demokrasi di Amerika Serikat yang sudah ada sejak awal mulai terbentuknya Bangsa Amerika, Jelas terasa sulit untuk di lepaskan dari kehidupan Bangsa tersebut, termasuk pula dalam pelaksanaan politik luar negerinya.
Samapai saat ini Bangsa Amerika yang merupakan salah satu Bangsa terkuat di dunia selalu terlalu terlibat dalam berbagi kasus di berbagai belahan dunia manapun, terutama kasus-kasus yang berupa pelanggaran hak asasi manusia dan nilai-nilai demokrasi.
Kaitan antara Doktrin Monroe dengan tradisi demokrasi di Amerika Serikat dapat disimpulkan, antara lain: Pertama, bangsa Amerika selama satu setengah abad (tahun 1817- Perang Dunia II), memegang teguh Doktrin Monroe, karena pada masa tersebut Amerika sedang membangun Bangsanya dan ingin melepaskan diri dari pengaruh Negara-Negara Eropa. Kedua, Bangsa Amerika melepaskan dirinya dari Doktrin Monroe, karena doktrin tersebut pada hakekatnya tidak sesuai dengan tradisi demokrasi Amerika. Artinya doktrin tersebut menghalangi Bangsa Amerika untuk menyebarkan paham demokrasinya keberbagai penjuru dunia dan hanya terbatas di Benua Amerika saja.
Bagaimanapun juga Amerika Serikat sekarang ini adalah merupakan salah satu negara yang paling demokratis di dunia. Amerika Serikat telah menjadi pelopor dan teladan dari berbagai bangsa di dunia tentang bagaimana cara mengatur negara dan bangsanya prinsip-prinsip yang demokratis.
Amerika Serikat yang sekarang ini merupakan satu-satunya negara adi kuasa di duniaa, setelah hancurnya Uni Soviet, memiliki tanggung jawab dalam mempelopori pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belahan dunia saat ini.

0 comments:

Poskan Komentar